MAPALA - MIPALA FMIPA UNTAN

SELAMAT DATANG.

Motto Organisasi MIPALA

Alam adalah tempat untuk menguji kepribadian dan keteguhan hati seseorang Alam tidak akan hidup tanpa adanya orang-orang yang berfikir dan menghargainya.

IKRAR MIPALA

Kami menjadi satu dalam nafas Pencinta Alam Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Tanjungpura dan rela berkorban dengan tetap menjunjung tinggi nilai-nilai akademis, baik di dalam maupun di luar kampus.

Organisasi MIPALA

Alam adalah tempat untuk menguji kepribadian dan keteguhan hati seseorang Alam tidak akan hidup tanpa adanya orang-orang yang berfikir dan menghargainya

Underwater

Menikmati keindahan laut siapa yang tidak ingin namun semua tergantung kesiapan kawan-kawan,Dasar Snorkling, yang biasa juga disebut dengan skin diving harus dimiliki.

Showing posts with label Serba-Serbi. Show all posts
Showing posts with label Serba-Serbi. Show all posts

Nikmati alam bawah laut kita

Sangat disayangkan dengan keindahan alam bawah laut Indonesia yang masuk dalam pusat jantung segitiga karang dunia terindah jika kita tidak dapat menikmati pesonanya. Menikmati alam bawah laut Indonesia gak Cuma harus menyelam dengan scuba (Scuba Diving) loh, disamping membutuhkan keahlian khusus serta alat-alat dan kursus bersertifikat yang harus diambil sudah barang tentu akan mahal biayanya, semakin tinggi levelnya semakin mahal.

Bagi teman-teman yang belum mampu melakukan scuba diving cukup dengan ber-snorkeling ria saja, toh keindahan alam bawah laut kita banyak juga yang tingkat kedalaman kurang dari 5 meter..jadi dari permukaan lautpun tetap dapat terlihat jelas pesona terumbu karang dan ikan-ikannya yang lucu nan cantik

Memang snorkeling tidak membutuhkan keahlian khusus namun ada beberapa hal yang harus kita ketahui agar lebih aman, nyaman dan tetap menjaga lingkungan.

Persiapan snorkeling
• Siapakan masker, snorkel dan fin juga jaket pelampung untuk keamanan.
• Latihlah bernafas menggunakan snorkel sebelum masuk turun ke laut.
• Bagi yang tidak bias berenang, tidak usah khawatir, ada jaket pelampung dan berlatih mengayuh dengan fin didampingi oleh instruktur snorkeling.


Memulai snorkeling
• Setelah masuk ke laut yang harus diingat adalah santai saja, jangan tegang apalagi panik dan jangan bergerak alias nikmati bahwa dengan memakai jaket pelampung kita tidak tenggelam.
• Mulailah memasukkan kepala kita kedalam air dan bernafaslah dengan snorkel seperti bernafas normal tapi dengan mulut ya.
• Setelah merasa nyaman gerakan kaki perlahan dengan gaya menendang bergantian kiri dan kanan dan maju perlahan.
• Sekarang kita sudah dapat menikmati alam bawah laut dengan snorkeling dan sesekali melihat kelompok kita agar tidak terlalu jauh.
• Jika masker kita berembun, oleskan dengan shampoo bayi bagian dalamnya, diamkan sebentar dan basuhlah dgn air hingga bersih atau bisa juga membasuh dengan air laut agar suhu di dalam dan di luar masker menjadi sama.
• Sesekali cobalah menyelam dengan melepas pelampung dengan menahan nafas panjang yang di sebut free dive atau menyelam bebas.

Yuk jaga kelestarian

• Ingat teman, jangan sampai menyentuh terumbu karang dan biota lainnya terutama fin yang kita gunakan.
• Pertumbuhan terumbu karang hanya per-inci setiap tahunnya, lambat sekali sayang jika kita mengganggu pertumbuhan tersebut.
• Sudah barang tentu kita gak boleh nyampah.

Selamat mencoba temans…

sumber artikel : http://langbhu.com/nikmati-alam-bawah-laut-kita/

Tips Merencanakan liburan Keluarga

Sebelum anda bepergian atau berlibur bersama sama keluarga, ada baiknya jika anda terlebih dahulu merencanakan kegiatan liburan tersebut. Merencanakan liburan keluarga bisa menjadi kegiatan yang benar-benar menyenangkan terutama jika Anda melibatkan semua orang yang Anda cintai. Berikut adalah beberapa dasar dalam perencanaan untuk perjalanan liburan dengan seluruh keluarga Anda:
  1. Diskusikan di mana Anda semua ingin berlibur, Ada beberapa tempat liburan potensial Anda dapat mengeceknya lewat internet. selain itu anda juga harus mempertimbangkan transportasi Anda juga, karena ini sangat penting. misalnya dengan menggunakan mobil sendiri, pesawat, atau kereta api, dengan demikian anda bisa memesan tiket terlebih dahulu. Juga membahas kegiatan Anda setelah tiba di tempat tujuan.
  2. Libatkan seluruh keluarga Anda saat merencanakan liburan. Ini akan membuatnya lebih menyenangkan bagi mereka, karena mereka akan memiliki suara dalam hal-hal apa yang mereka butuhkan untuk membawa apa dan jenis kegiatan apa yang akan dilakukan disana. semua dapat berpartisipasi, juga akan membuat setiap anggota keluarga Anda merasa seolah-olah mereka ‘ telah memberikan kontribusi terhadap keberhasilan liburan Anda.
  3. Diskusikan anggaran Anda, Jangan sampai mengganggu keuangan keluarga karena liburan tidak harus dengan biaya mahal yang terpenting adalah bagaimana caranya agar anda dan keluarga bisa menikmati kebersamaan dan merasa senang.
  4. Jangan lupa untuk membawa barang yang diperlukan dalam bepergian seperti perlengkapan pakaian, perlengkapan mandi dan camilan, dll.
  5. Dan yang terakhir anda bisa mengabadikan moment moment terindah bersama keluarga tercinta dengan membawa kamera. (sumber : keluargasakina.com)

Gaya Kepemimpinan dalam Suatu Organisasi

Pemimpin dan Kepemimpinan merupakan suatu kesatuan kata yang tidak dapat dipisahkan secara struktural maupun fungsional. Banyak muncul pengertian-pengertian mengenai pemimpin dan kepemimpinan, antara lain :
  1. Pemimpin adalah figur sentral yang mempersatukan kelompok (1942)
  2. Kepemimpinan adalah keunggulan seseorang atau beberapa individu dalam kelompok, dalam proses mengontrol gejala-gejala sosial
  3. Brown (1936) berpendapat bahwa pemimpin tidak dapat dipisahkan dari kelompok, akan tetapi boleh dipandang sebagai suatu posisi dengan potensi tinggi di lapangan. Dalam hal sama, Krech dan Crutchfield memandang bahwa dengan kebaikan dari posisinya yang khusus dalam kelompok ia berperan sebagai agen primer untuk penentuan struktur kelompok, suasana kelompok, tujuan kelompok, ideologi kelompok, dan aktivitas kelompok.
  4. Kepemimpinan sebagai suatu kemampuan meng-handel orang lain untuk memperoleh hasil yang maksimal dengan friksi sesedikit mungkin dan kerja sama yang besar, kepemimpinan merupakan kekuatan semangat/moral yang kreatif dan terarah.
  5. Pemimpin adalah individu yang memiliki program/rencana dan bersama anggota kelompok bergerak untuk mencapai tujuan dengan cara yang pasti.
Muncul dua pertanyaan yang menjadi perdebatan mengenai pemimpin,
  1. Apakah seorang pemimpin dilahirkan atau ditempat?
  2. Apakah efektivitas kepemimpinan seseorang dapat dialihkan dari satu organisasi ke organisasi yang lain oleh seorang pemimpin yang sama?
Untuk menjawab pertanyaan pertama tersebut kita lihat beberapa pendapat berikut :
  • Pihak yang berpendapat bahwa “pemimpin itu dilahirkan” melihat bahwa seseorang hanya akan menjadi pemimpin yang efektif karena dia dilahirkan dengan bakat-bakat kepemimpinannya.
  • Kubu yang menyatakan bahwa “pemimpin dibentuk dan ditempa” berpendapat bahwa efektivitas kepemimpinan seseorang dapat dibentuk dan ditempa. Caranya adalah dengan memberikan kesempatan luas kepada yang bersangkutan untuk menumbuhkan dan mengembangkan efektivitas kepemimpinannya melalui berbagai kegiatan pendidikan dan latihan kepemimpinan.
Sondang (1994) menyimpulkan bahwa seseorang hanya akan menjadi seorang pemimpin yang efektif apabila :
  1. seseorang secara genetika telah memiliki bakat-bakat kepemimpinan
  2. bakat-bakat tersebut dipupuk dan dikembangkan melalui kesempatan untuk menduduki jabatan kepemimpinannya
  3. ditopang oleh pengetahuan teoritikal yang diperoleh melalui pendidikan dan latihan, baik yang bersifat umum maupun yang menyangkut teori kepemimpinan.
Untuk menjawab pertannyaan kedua dapat dirumuskan dua kategori yang sudah barang tentu harus dikaji lebih jauh lagi:
  • Keberhasilan seseorang memimpin satu organisasi dengan sendirinya dapat dilaihkan kepada kepemimpinan oleh orang yang sama di organisasi lain
  • Keberhasilan seseorang memimpin satu organisasi tidak merupakan jaminan keberhasilannya memimpin organisasi lain.

Tipe-tipe Kepemimpinan :

1. Tipe Otokratik

Semua ilmuan yang berusaha memahami segi kepemimpinan otokratik mengatakan bahwa pemimpin yang tergolong otokratik dipandang sebagai karakteritik yang negatif.
Dilihat dari persepsinya seorang pemimpin yang otokratik adalah seseorang yang sangat egois. Seorang pemimpin yang otoriter akan menujukan sikap yang menonjolkan “keakuannya”, antara lain dalam bentuk :
  • kecenderungan memperlakukan para bawahannya sama dengan alat-alat lain dalam organisasi, seperti mesin, dan dengan demikian kurang menghargai harkat dan martabat mereka
  • pengutmaan orientasi terhadap pelaksanaan dan penyelesaian tugas tanpa mengkaitkan pelaksanaan tugas itu dengan kepentingan dan kebutuhan para bawahannya.
  • Pengabaian peranan para bawahan dalam proses pengambilan keputusan.
Gaya kepemimpinan yang dipergunakan pemimpin yang otokratik antara lain:
  1. menuntut ketaatan penuh dari para bawahannya
  2. dalam menegakkan disiplin menunjukkan keakuannya
  3. bernada keras dalam pemberian perintah atau instruksi
  4. menggunakan pendekatan punitif dalamhal terhadinya penyimpangan oleh bawahan,

2. Tipe Paternalistik

Tipe pemimpin paternalistik hanya terdapat di lingkungan masyarakat yang bersifat tradisional, umumnya dimasyarakat agraris. Salah satu ciri utama masuarakat tradisional ialah rasa hormat yang tinggi yang ditujukan oleh para anggiota masyarakat kepada orang tua atau seseorang yang dituakan.
Pemimpin seperti ini kebapakan, sebagai tauladan atau panutan masyarakat. Biasanya tiokoh-toko adat, para ulama dan guru. Pemimpin ini sangat mengembangkan sikap kebersamaan.

3. Tipe Kharismatik

Tidak banyak hal yang dapat disimak dari literatur yang ada tentang kriteria kepemimpinan yang kharismatik. Memang ada karakteristiknya yang khas yaitu daya tariknya yang sangat memikat sehingga mampu memperoleh pengikut yang jumlahnya kadang-kadang sangat besar. Tegasnya seorang pemimpin yang kharismatik adalah seseorang yang dikagumi oleh banyak pengikut meskipun para pengikut tersebut tidak selalu dapat menjelaskan secara konkret mengapa orang tersebut dikagumi.4.

4. Tipe Laissez Faire

Pemimpin ini berpandangan bahwa umumnya organisasi akan berjalan lancar dengan sendirinya karena para anggota organisasi terdiri dari orang-orang yang sudah dewasa yang mengetahui apa yang menjadi tujuan organisasi, sasaran-sasaran apa yang ingin dicapai, tugas apa yang harus ditunaikan oleh masing-masing anggota dan pemimpin tidak terlalu sering intervensi.
Karakteristik dan gaya kepemimpinan tipe ini adalah :
  1. pendelegasian wewenang terjadi secara ekstensif
  2. pengambilan keputusan diserahkan kepada para pejabat pimpinan yang lebih rendah dan kepada petugas operasional, kecuali dalam hal-hal tertentu yang nyata-nyata menuntut keterlibatannya langsung.
  3. Status quo organisasional tidak terganggu
  4. Penumbuhan dan pengembangan kemampuan berpikir dan bertindah yang inovatif diserahkan kepada para anggota organisasi yang bersangkutan sendiri.
  5. Sepanjang dan selama para anggota organisasi menunjukkan perilaku dan prestasi kerja yang memadai, intervensi pimpinan dalam organisasi berada pada tingkat yang minimum. 

5. Tipe Demokratik

  1. Pemimpin yang demokratik biasanya memandang peranannya selaku koordinator dan integrator dari berbagai unsur dan komponen organisasi.
  2. Menyadari bahwa mau tidak mau organisasi harus disusun sedemikian rupa sehingga menggambarkan secara jelas aneka ragam tugas dan kegiatan yang tidak bisa tidak harus dilakukan demi tercapainya tujuan.
  3. Melihat kecenderungan adanya pembagian peranan sesuai dengan tingkatnya.
  4. Memperlakukan manusia dengan cara yang manusiawi dan menjunjung harkat dan martabat manusia
  5. Seorang pemimpin demokratik disegani bukannya ditakuti.

 Ciri ciri pemimpin dan kepemimpinan yang ideal antara lain :

  1. Pengetahuan umum yang luas, semakin tinggi kedudukan seseorang dalam hirarki kepemimpinan organisasi, ia semakin dituntut untuk mampu berpikir dan bertindak secara generalis.
  2. Kemampuan Bertumbuh dan Berkembang
  3. Sikap yang Inkuisitif atau rasa ingin tahu, merupakan suatu sikap yang mencerminkan dua hal: pertama, tidak merasa puas dengan tingkat pengetahuan yang dimiliki; kedua, kemauan dan keinginan untuk mencari dan menemukan hal-hal baru.
  4. Kemampuan Analitik, efektifitas kepemimpinan seseorang tidak lagi pada kemampuannya melaksanakan kegiatan yang bersifat teknis operasional, melainkan pada kemampuannya untuk berpikir. Cara dan kemampuan berpikir yang diperlukan dalah yang integralistik, strategik dan berorientasi pada pemecahan masalah.
  5. Daya Ingat yang Kuat, pemimpin harus mempunyai kemampuan inteletual yang berada di atas kemampuan rata-rata orang-orang yang dipimpinnya, salah satu bentuk kemampuan intelektual adalah daya ingat yang kuat.
  6. Kapasitas Integratif, pemimpin harus menjadi seorang integrator dan memiliki pandangan holistik mengenai orgainasi.
  7. Keterampilan Berkomunikasi secara Efektif, fungsi komunikasi dalam organisasi antara lain : fungsi motivasi, fungsi ekspresi emosi, fungsi penyampaian informasi dan fungsi pengawasan.
  8. Keterampilan Mendidik, memiliki kemampuan menggunakan kesempatan untuk meningkatkan kemampuan bawahan, mengubah sikap dan perilakunya dan meningkatkan dedikasinya kepada organisasi.
  9. Rasionalitas, semakin tinggi kedudukan manajerial seseorang semakin besar pula tuntutan kepadanya untuk membuktikan kemampuannya untuk berpikir. Hasil pemikiran itu akan terasa dampaknya tidak hanya dalam organisasi, akan tetapi juga dalam hubungan organisasi dengan pihak-pihak yang berkepentingan di luar organisasi tersebut.
  10. Objektivitas, pemimpin diharapkan dan bahkan dituntut berperan sebagai bapak dan penasehat bagi para bawahannya.  Salah satu kunci keberhasilan seorang pemimpin dalam mengemudikan organisasi terletak pada kemampuannya bertindak secara objektif.
  11. Pragmatisme, dalam kehidupan organisasional, sikap yang pragmatis biasanya terwujud dalam bentuk sebagai berikut : pertama, kemampuan menentukan tujuan dan sasaran yang berada dalam jangkauan kemampuan untuk mencapainya yang berarti menetapkan tujuan dan sasaran yang realistik tanpa melupakan idealisme. Kedua, menerima kenyataan apabila dalam perjalanan hidup tidak selalu meraih hasil yang diharapkan.
  12. Kemampuan Menentukan Prioritas, biasanya yang menjadi titik tolak strategik organisasional adalah “SWOT”.
  13. Kemampuan Membedakan hal yang Urgen dan yang Penting
  14. Naluri yang Tepat, kekampuannya untuk memilih waktu yang tepat untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu.
  15. Rasa Kohesi yang tinggi, :senasib sepenanggungan”, keterikan satu sama lain.
  16. Rasa Relevansi yang tinggi, pemimpin tersebut mampu berpikir dan bertindak sehingga hal-hal yang dikerjakannya mempunyai relevansi tinggi dan langsung dengan usaha pencapaian tujuan dan berbagai sasaran organisasi.
  17. Keteladanan,s seseorang yang dinilai pantas dijadikan sebagai panutan dan teladan dalam sikap, tindak-tanduk dan perilaku.
  18. Menjadi Pendengar yang Baik
  19. Adaptabilitas, kepemimpinan selalu bersifat situasional, kondisonal, temporal dan spatial.
  20. Fleksibilitas, mampu melakukan perubahan dalam cara berpikir, cara bertindak, sikap dan perilaku agar sesuai dengan tuntutan situasi dan kondisi tertentu yang dihadapi tanpa mengorbankan prinsip-prinsip hidup yang dianut oleh seseorang.
  21. Ketegasan
  22. Keberanian
  23. Orientasi Masa Depan
  24. Sikap yang Antisipatif dan Proaktif

 KERETAKAN DALAM ORGANISASI

Salah paham dalam menerima dan menafisrkan pesan.
  • Prosedur hubungan dalam organisasi tidak diikuti dengan benar. Misalnya, arahan dari pihak atasan langsung ke level paling bawah, tanpa mengambil peranan pihak tengah (middle level) dalam organisasi.
  • Kurangnya komitmen penuh dalam kerja organisasi. Aturan organisasi tidak dipahami dan dihayati pleh anggota organisasi.
  • Adanya kepentingan pribadi. Organisasi dipergunakan untuk memperoleh keuntungan pribadi.
  • Permasalahan yang tidak kunjung selesai, sehingga tidak muncul kondisi organisasi yang nyaman.
  • Tidak adanya pembagian kerja dan juga pembagian keuntungan yang adil..
Keretakan dalam organisasi dapat menumbuhkan citra negatif, dengan permasalah yang saling terkait, antara lain :
  • Keretakan hubungan antara anggota organisasi.
  • Perselisihan yang terus berlarut-larut dan suasana organisasi yang muram.
  • Wujud sikap mementingkan diri sendiri.
  • Produktivitas organisasi merosot.
  • Ketidakstabilan organisasi akibat dari retaknya hubungan.
  • Penyalahsunaan kekuasaan, mementingkan diri sendiri

PEMIMPIN VISIONER

Kepemimpinan visioner, adalah pola kepemimpinan yang ditujukan untuk memberi arti pada kerja dan usaha yang perlu dilakukan bersama-sama oleh para anggota perusahaan dengan cara memberi arahan dan makna pada kerja dan usaha yang dilakukan berdasarkan visi yang jelas (Diana Kartanegara, 2003).
Kepemimpinan Visioner memerlukan kompetensi tertentu. Pemimipin visioner setidaknya harus memiliki empat kompetensi kunci sebagaimana dikemukakan oleh Burt Nanus (1992), yaitu:
  1. Seorang pemimpin visioner harus memiliki kemampuan untuk berkomunikasi secara efektif dengan manajer dan karyawan lainnya dalam organisasi. Hal ini membutuhkan pemimpin untuk menghasilkan “guidance, encouragement, and motivation.”
  2. Seorang pemimpin visioner harus memahami lingkungan luar dan memiliki kemampuan bereaksi secara tepat atas segala ancaman dan peluang. Ini termasuk, yang plaing penting, dapat “relate skillfully”dengan orang-orang kunci di luar organisasi, namun memainkan peran penting terhadap organisasi (investor, dan pelanggan).
  3. Seorang pemimpin harus memegang peran penting dalam membentuk dan mempengaruhi praktek organisasi, prosedur, produk dan jasa. Seorang pemimpin dalam hal ini harus terlibat dalam organisasi untuk menghasilkan dan mempertahankan kesempurnaan pelayanan, sejalan dengan mempersiapkan dan memandu jalan organisasi ke masa depan (successfully achieved vision).
  4. Seorang pemimpin visioner harus memiliki atau mengembangkan “ceruk” untuk mengantisipasi masa depan. Ceruk ini merupakan ssebuah bentuk imajinatif, yang berdasarkan atas kemampuan data untuk mengakses kebutuhan masa depan konsumen, teknologi, dan lain sebagainya. Ini termasuk kemampuan untuk mengatur sumber daya organisasi guna memperiapkan diri menghadapi kemunculan kebutuhan dan perubahan ini.

Barbara Brown mengajukan 10 kompetensi yang harus dimiliki oleh pemimpin visioner, yaitu:

    1. Visualizing
.  Pemimpin visioner mempunyai gambaran yang jelas tentang apa yang hendak dicapai dan mempunyai gambaran yang jelas kapan hal itu akan dapat dicapai.
  1. Futuristic Thinking. Pemimpin visioner tidak hanya memikirkan di mana posisi bisnis pada saat ini, tetapi lebih memikirkan di mana posisi yang diinginkan pada masa yang akan datang.
  2. Showing Foresight. Pemimpin visioner adalah perencana yang dapat memperkirakan masa depan. Dalam membuat rencana tidak hanya mempertimbangkan apa yang ingin dilakukan, tetapi mempertimbangkan teknologi, prosedur, organisasi dan faktor lain yang mungkin dapat mempengaruhi rencana.
  3. Proactive Planning. Pemimpin visioner menetapkan sasaran dan strategi yang spesifik untuk mencapai sasaran tersebut. Pemimpin visioner mampu mengantisipasi atau mempertimbangkan rintangan potensial dan mengembangkan rencana darurat untuk menanggulangi rintangan itu
  4. Creative Thinking. Dalam menghadapi tantangan pemimpin visioner berusaha mencari alternatif jalan keluar yang baru dengan memperhatikan isu, peluang dan masalah. Pemimpin visioner akan berkata“If it ain’t broke, BREAK IT!”.
  5. Taking Risks.  Pemimpin visioner berani mengambil resiko, dan menganggap kegagalan sebagai peluang bukan kemunduran.
  6. Process alignment. Pemimpin visioner mengetahui bagaimana cara menghubungkan sasaran dirinya dengan sasaran organisasi. Ia dapat dengan segera menselaraskan tugas dan pekerjaan setiap departemen pada seluruh organisasi.
  7. Coalition building. Pemimpin visioner menyadari bahwa dalam rangka mencapai sasara dirinya, dia harus menciptakan hubungan yang harmonis baik ke dalam maupun ke luar organisasi. Dia aktif mencari peluang untuk bekerjasama dengan berbagai macam individu, departemen dan  golongan tertentu.
  8. Continuous Learning. Pemimpin visioner harus mampu dengan teratur mengambil bagian dalam pelatihan dan berbagai jenis pengembanganlainnya, baik di dalam maupun di luar organisasi. Pemimpin visioner mampu menguji setiap interaksi, negatif atau positif, sehingga mampu mempelajari situasi. Pemimpin visioner mampu mengejar peluang untuk bekerjasama  dan mengambil bagian dalam proyek yang dapat memperluas pengetahuan, memberikan tantangan berpikir dan mengembangkan imajinasi.
  9. Embracing Change. Pemimpin visioner mengetahui bahwa perubahan adalah suatu bagian yang penting bagi pertumbuhan dan pengembangan. Ketika ditemukan perubahan yang tidak diinginkan atau  tidak diantisipasi, pemimpin visioner dengan aktif menyelidiki jalan yang dapat memberikan manfaat pada perubahan tersebut.
Burt Nanus (1992),  mengungkapkan ada empat peran yang harus dimainkan oleh pemimpin visioner dalam melaksanakan  kepemimpinannya, yaitu:
  1. Peran penentu arah (direction setter). Peran ini merupakan peran di mana  seorang pemimpin menyajikan suatu visi, meyakinkan gambaran atau target untuk suatu organisasi, guna diraih pada masa depan, dan melibatkan orang-orang dari “get-go.” Hal ini bagi para ahli dalam studi dan praktek kepemimpinan merupakan esensi dari kepemimpinan. Sebagai penentu arah, seorang pemimpin menyampaikan visi, mengkomunikasikannya, memotivasi pekerja dan rekan, serta meyakinkan orang bahwa apa yang dilakukan merupakan hal yang benar, dan mendukung partisipasi pada seluruh tingkat dan pada seluruh tahap usaha menuju masa depan.
  2. Agen perubahan (agent of change). Agen perubahan merupakan peran penting kedua dari seorang pemimpin visioner. Dalam konteks perubahan, lingkungan eksternal adalah pusat. Ekonomi, sosial, teknologi, dan perubahan politis terjadi secara terus-menerus, beberapa berlangsung secara dramatis dan yang lainnya berlangsung dengan perlahan. Tentu saja, kebutuhan pelanggan dan pilihan berubah sebagaimana halnya perubahan keinginan para stakeholders. Para pemimpin yang efektif harus secara konstan menyesuaikan terhadap perubahan ini dan berpikir ke depan tentang perubahan potensial dan yang dapat dirubah. Hal ini menjamin bahwa pemimpin disediakan untuk seluruh situasi atau peristiwa-peristiwa yang dapat mengancam kesuksesan organisasi saat ini, dan yang paling penting masa depan. Akhirnya, fleksibilitas dan resiko yang dihitung pengambilan adalah juga penting lingkungan yang berubah.
  3. Juru bicara (spokesperson). Memperoleh “pesan” ke luar, dan juga berbicara, boleh dikatakan merupakan suatu bagian penting dari memimpikan masa depan suatu organisasi. Seorang pemimpin efektif adalah juga seseorang yang mengetahui dan menghargai segala bentuk komunikasi tersedia, guna menjelaskan dan membangun dukungan untuk suatu visi masa depan. Pemimpin, sebagai juru bicara untuk visi, harus mengkomunikasikan suatu pesan yang mengikat semua orang agar melibatkan diri dan menyentuh visi organisasi-secara internal dan secara eksternal. Visi yang disampaikan harus “bermanfaat, menarik, dan menumbulkan kegairahan tentang masa depan organisasi.”
  4. Pelatih (coach). Pemimpin visioner yang efektif harus menjadi pelatih yang baik. Dengan ini berarti bahwa seorang pemimpin harus menggunakan kerjasama kelompok untuk mencapai visi yang dinyatakan. Seorang pemimpin mengoptimalkan kemampuan seluruh “pemain” untuk bekerja sama, mengkoordinir aktivitas atau usaha mereka, ke arah “pencapaian kemenangan,” atau menuju pencapaian suatu visi organisasi. Pemimpin, sebagai pelatih, menjaga pekerja untuk memusatkan pada realisasi visi dengan pengarahan, memberi harapan, dan membangun kepercayaan di antara pemain yang penting bagi organisasi dan visinya untuk masa depan. Dalam beberapa kasus, hal tersebut dapat dibantah bahwa pemimpin sebagai pelatih,  lebih tepat untuk ditunjuk  sebagai “player-coach.”

Kekeliruan yang Fatal Seorang Pemimpin



Kalau tindakan seorang pemimpin terhadap bawahan sembrono, maka sebenarnya ia bukan hanya tidak menghormati bawahannya. Lebih dari itu ia juga telah mengajarkan kepada bawahan untuk tidak menghormati atasannya. Seorang pemimpin tidak boleh terjebak pada perannya sebagai sahabat atau psikiater. Tugas pemimpin adalah bagaimana mengelola kehidupan sebuah perusahaan.”
Kesuksesan sebuah usaha bisa dilacak dari pemimpinnya. Edwin H. Friedman mengatakan, “Kepemimpinan bisa dianggap sebagai kapasitas untuk menentukan diri sendiri dengan orang lain, dengan cara yang jelas dan memperluas visi masa depan.”
Penting untuk mengenali apa yang positif dan efektif di masing-masing pemimpin, tapi juga penting untuk menyadari hambatan yang mungkin dihadapi. Kepemimpinan yang sukses berkembang dari waktu ke waktu, dan hanya bisa ditingkatkan dengan pengetahuaun bagaimana mendiagnosa dan memperlakukan pemimpin.
Setiap pemimpin yang berpandangan ke depan semestinya memahami bahwa sumber daya yang tak ternilai dalam setiap perusahaan adalah potensi manusianya. Sebagai pemimpin, ia bertanggung-jawab untuk mengembangkan bakat yang sangat luas tersebut. Sebegitu pentingnya unsur sumber daya manusia, seorang eksekutif puncak di sebuah perusahaan besar di Amerika pernah berujar: “Ambilah semua harta saya, asal bukan organisasinya. Maka dalam lima tahun kedepan saya akan bisa memperoleh semuanya kembali.”
Masalahnya, tidak semua pemimpin mampu mengelola perusahaannya dengan benar. Menurut catatan Steven Brown yang telah bertahun-tahun bertugas sebagai konsultan, setidaknya ada beberapa kesalahan fatal yang dilakukan oleh seorang pemimpin. Kesalahan tersebut adalah:

Gagal Mengembangkan Orang

Salah satu tujuan utama manajemen adalah kelangsungan bisnis itu sendiri, meski ada perubahan waktu dan orang-orang yang mengelolanya. Itu artinya, jika suatu saat perusahaan yang anda bangun akhirnya menjadi runtuh setelah anda tinggalkan, maka anda layak merasa bersalah dan gagal dalam mengembangkan estafet kepemimpinan. Sering terjadi, karena berbagai alasan, tidak percaya kemampuan seseorang, misalnya seorang pemimpin merasa perlu melakukan segala sesuatunya sendiri. Tidak ada pelimpahan wewenang dan kekuasaan. Akibatnya, selain disibukkan oleh urusan yang sebenarnya tidak perlu, pemimpin tadi secara tidak sadar telah melewatkan kesempatan untuk menciptakan kader-kader pemimpin baru. Jika anda ragu mengenai perlunya membangun people sekuat mungkin, berikut bisa menjadi gambaran. Seseorang memulai sebuah usaha, dan usaha itu terus bertahan selama ia masih bekerja. Lalu, perusahaan itu perlahan-lahan lenyap setelah para penggantinya menggantikan selama kurang lebih setengah jangka waktu kerja suatu generasi.

Mengendalikan Hasil, Bukan Mengendalikan Cara

Cara berpikir seseorang tentu berbeda-beda. Ini pula yang menjadi sebab mengapa beberapa orang bisa lebih produktif ketimbang yang lain. Kebanyakan pemimpin sering memukul rata mengenai unjuk kerja karyawannya. Terlebih lagi untuk pekerjaan-pekerjaan yang sangat mudah terlihat hasilnya, seperti bidang penjualan.
Padahal setiap karyawan, seperti tadi sudah disinggung memiliki cara pandang dan perasaan yang berbeda-beda untuk suatu masalah. Karena itu untuk menghindari persepsi yang keliru itu, seorang pemimpin mesti melihat dalam sebuah kerangka rangkaian yang utuh, yakni melalui pikiran, perasaan atau akal budi, kegiatan dan lama-lama menjadi kebiasaan, lalu memberikan hasil. Jika rangkaian tersebut dipergunakan, maka pemimpin akan dengan mudah melakukan perubahan drastis dalam membangun produktifitas karyawan.

Bergabung dengan Kelompok yang Keliru

Poin utama pada masalah ini adalah bagaimana seorang pemimpin mengembangkan sikap, terutama tentang kesetiaan. Seorang pemimpin sering dijadikan sebagai pejuang bagi orang-orang yang melawan kebijakan, tujuan dan sasaran perusahaan.
Jika hal itu terjadi, anda harus menolak sekalipun yang mengajak anda adalah seorang pemimpin sejawat anda atau sekumpulan beberapa karyawan.

Seragam dalam Mengelola Orang

Pemimpin yang mengelola anak buahnya dengan cara yang sama atau satu teknik saja, seringkali mengalami kekecewaan. Pemimpin yang baik mestinya peka terhadap perbedaan dan kepribadian masing-masing staf.
Oleh karena itu, pemimpin harus menyadari dan memanfaatkan perbedaan tersebut sebagai sebuah kekuatan.

Melupakan Pentingnya Laba

Tujuan utama sebuah organisasi adalah menjaga kelangsungan organisasi tersebut. Untuk tujuan tersebut, perusahaan mestilah meraih laba untuk membiayai kelangsungan tersebut. Seringkali terjadi, di perusahaan masing-masing divisi merasa lebih penting ketimbang divisi yang lain. Hal ini bisa membuat seorang pemimpin tidak fokus dan akhirnya melupakan pentingnya laba.

Terpaku Pada Persoalan, Lupa Tujuan

Salah satu alasan mengapa seorang pemimpin tidak efektif adalah karena ia terpaku pada masalah-masalah sederhana, misalnya kesalahan-kesalahan kecil yang dilakukan anak buahnya atau orang lain.
Daripada membuang-buang energi untuk mencari-cari kesalahan orang lain, tentu lebih baik jika seorang pemimpin melakukan pendekatan lain. Misalnya dengan mencari tahu, apa yang mempengaruhi prestasi seseorang.

Bersikap Sebagai Sesama, Bukan Pemimpin

Usai jam kantor, banyak pemimpin perusahaan yang ingin bersikap sebagai orang biasa seperti sesama karyawan yang lain. Kemudian esok paginya ia akan bersikap sebagai pemimpin lagi. Banyak karyawan yang tidak bisa menerima sikap seperti itu. Seorang pemimpin memang harus memilih: menjadi pemimpin atau menjadi sesama karyawan. Tidak ada jalan tengah dalam situasi seperti itu.
Alasannya sederhana, kalau tindakan seorang pemimpin terhadap karyawan sembrono, maka sebenarnya ia tidak hanya tidak menghormati karyawannya. Lebih dari itu ia juga telah mengajarkan kepada karyawan untuk tidak menghormati atasannya. Seorang pemimpin tidak boleh terjebak pada perannya sebagai sahabat, atau psikiater. Tugas pemimpin adalah bagaimana mengelola kehidupan sebuah perusahaan.

Gagal Menentukan Standar

Banyak pemimpin yang tidak menyukai konsep menentukan standar. Bahkan mungkin mereka ingin menghindari pembicaraan tentang hal itu, karena mereka menilai standar sebagai cara untuk menghukum mereka yang gagal memproduksi atau yang tidak kompromistis.
Orang yang beranggapan demikian sebenarnya tidak memahami salah satu kunci perusahaan yang dikelola dengan baik. Perusahaan memang tidak usah memaksa orang untuk tunduk kepada sederetan panjang peraturan, tetapi ia harus mempunyai sasaran untuk membangun kebanggaan pribadi dan perusahaan.
(sumber : kaskus.us)

Pemimpin yang Efektif

Apabila berbicara masalah pemimpin,  yang tergambar dalam benak adalah seorang presiden, gubernur, pimpinan organisasi formal maupun non formal. Pemimpin ialah seseorang yang memimpin dan mengarahkan orang lain sehingga orang-orang yang masuk dalam institusinya akan mengikutinya. Adanya kerjasama antara pemimpin dengan yang dipimpin menjadi keniscayaan, sehingga pemimpin menjadi efektif.
Adanya partisipasi aktif segenap anggota institusi menunjukkan berjalannya kepemimpinan yang aktif. Hal ini perlu adanya langkah-langkah konkrit untuk mengaktifkan seluruh institusi. Maka timbullah apa yang disebut dengan pemimpin yang sukses atau timbullah pemimpin yang efektif.

Teori Kepemimpinan

1. Pengertian

Kepemimpinan merupakan suatu wacana publik yang sangat menarik untuk selalu dikaji dan dibahas dalam tataran ilmiah. Berbagai hasil penelitian tentang kepemimpinan telah banyak didapat yang secara teoritikal menjadi acuan ilmiah dan selanjutnya diaplikasikan dalam kehidupan berkeluarga, bermasyarakat, berorganisasi; baik dalam organisasi kenegaraan, politik, perusahaan, keagamaan, pendidikan dan bentuk organisasi lainnya.
Secara konseptual para ilmuan bervariasi dalam mendefinisikan kepemimpinan, baik pengertian kepemimpinan secara umum maupun pengertian kepemimpinan secara khusus pada organisasi tertentu, walaupun intinya merupakan suatu proses dalam rangka mencapai tujuan organisasi. Diantara definisi kepemimpinan adalah sebagai berikut;

a. Kepemimpin secara umum

  1. Menurut John D. Pfiffner & Robert Presthus, “Leadership is the art of coordinating and motivating individuals and group to achieve desired ends.” (Kepemimpinan adalah seni mengkoordinasi dan memotivasi individu-individu serta kelompok-kelompok untuk mencapai tujuan yang diinginkan)
  2. Menurut Martin J. Gannon, “Leadership is the ability of a superior to influence the behavior of subordinates; one of the behavioral in organization.” (Kepemimpinan adalah kemampuan seorang atasan mempengaruhi perilaku bawahannya; salah satu prilaku dalam organisasi).
Dengan demikian, maka inti dari pengertian kepemimpinan tersebut di atas bisa disimpulkan bahwa kepemimpinan adalah kemampuan dalam proses mempengaruhi, mengkoordinasikan, menggerakkan segala komponen dalam suatu organisasi dalam upaya efektivitas dan efesiensi untuk pencapaian tujuan organisasi.

Teori Kepemimpinan

Secara teoritikal kepemimpinan, para pakar peneliti memiliki beberapa pandangan tentang pendekatan atau teori kepemimpinan. Gary Yukl dalam bukunya yang berjudul Leadership in Oraganization menjelaskan bahwa ada lima pendekatan (teori) kepemimpinan.
“Therefore, it is helpful to classify the theories and empirical research into the following five approaches: yaitu meliputi;
  1. Trait approach, (pendekatan ciri/ sifat) bahwa keberhasilan atau kegagalan seorang pemimpin banyak dipengaruhi oleh sifat-sifat seorang pemimpin karena pembawaan atau keturunan. Pemimpin adalah dilahirkan bukan dibuat, artinya pemimpin adalah mewarisinya.
  2. Behavior approach, (pendekatan perilaku) bahwa keberhasilan atau kegagalan pemimpin ditentukan oleh sikap dan gaya kepemimpinan yang dilakukan oleh pemimpin yang bersangkutan. Pendekatan perilaku inilah yang selanjutnya melahirkan berbagai teori tentang tipe atau gaya kepemimpinan.
  3. Power- influence approach () bahwa kekuasaan tidak hanya berada pada pimpinan saja tetapi juga berada pada anggotanya, sehingga efektivitas organisasi akan saling mempengaruhi antara pemimpin dan anggotanya.
  4. Situational approach () bahwa keberhasilan kepemimpinan suatu organisasi tidak hanya bergantung pada perilaku dan sifat-sifat pemimpin saja. Tetapi juga faktor masalah yang berbeda, lingkungan, semangat dan watak bawahan, situasi yang semuanya berbeda, juga disebut pendekatan kontingensi (kemungkinan)
  5. Integrative approach. () integrasi dari empat pendekatan sebelumnya yang meliputi pendekatan ciri, perilaku, pengaruh kekuasaan, dan situasional.

Tipologi Kepemimpinan

Pemimpin itu mempunyai sifat, kebiasaan, temperamen, watak dan kepribadian sendiri yang unik khas; sehingga tingkah laku dan gayanyalah yang membedakan dirinya dari orang lain. Gaya atau style hidupnya ini pasti akan mewarnai perilaku dan tipe kepemimpinannya, sehingga muncullah beberapa tipe kepemimpinan. Sondang P. Siagian membagi dengan 5 tipe kemimpinan:
  1. Tipe kepemimpinan Otokratik; ia akan menonjolkan ke-akuannya dengan kurang menghargai anggota, berorientasi pada penyelesaian tugas, mengabaikan peranan anggota dalam pengambilan keputusan.
  2. Tipe Kepemimpinan Paternalistik; kuatnya ikatan primordial, exented family system, kehidupan masyarakat yang komunalistik. Pemimpin berperan sebagai bapak yang bersifat melindungi dan memberi petunjuk, dan anggota menerima segala tugas dengan penuh kepatuhan.
  3. Tipe Kepemimpinan Kharismatik orang cenderung mengatakan bahwa ada orang-orang tertentu yang memiliki “kekuatan ajaib” yang tidak mungkin dijelaskan secara ilmiah
  4. Tipe Kepemimpinan Laissez Faire; Ia memiliki sikap yang permisif yang memperlakukan anggota organisasi sebagai rekan sekerja, keberadaan dia karena adanya struktur dan hirarki organisasi.
  5. Tipe kepemimpinan Demokratik. biasanya memandang peranannya selaku koordinator dan integrator dari berbagai unsur dan komponen sehingga bergerak sebagai suatu totalitas.

Kualifikasi Seorang Pemimpin

Seorang pemimpin memiliki tanggungjawab penuh terhadap yang dipimpinnya. Disamping itu pemimpin sebagi sosok suri tauladan yang menjadi rujukan segenap anggotanya. Tentunya ia harus memiliki nilai lebih ketimbang anggota organisasinya. Kualitas yang dimiliki seorang pemimpin berupa kualifikasi yang mestinya harus dimiliki sesuai dengan situasi dan kondisinya. Sehubungan dengan kualifikasi tersebut ada beberapa pendapat dari ilmuan manajemen dan kepemimpinan.
Menurut Charles Bernard, kepemimpinan mempunyai dua aspek. ”Pertama, kelebihan individual teknik kepemimpinan, yaitu mempunyai kondisi fisik, keterampilan yang tinggi, menguasai teknologi, mempunyai persepsi yang tepat, pengetahuan luas, ingatan yang baik, imajinasi yang menyakinkan akan mampu memimpin bawahan. Kedua, kesunggulan pribadi dalam ketegasan, keuletan, kesadaran, dan keberhasilan. Adanya kelebihan individu saja dianggap belum cukup menjadikan seorang pemimpin yang baik, sehingga masih perlu pendukung aspek-aspek yang lain.
Menurut Bedjo Siswanto bahwa kualifikasi kepemimpinan meliputi hal-hal berikut; 1). Watak dan kepribadian terpuji. 2). Prakarsa yang tinggi. 3). Hasyrat melayani bawahan. 4). Sadar dan paham kondisi lingkungan. 5). Intenlegensi yang tinggi. 6). Berorientasi kemasa depan. 7). Sikap terbuka dan lugas. 8). Widiasuara yang efektif.
Seorang pemimpin yang bisa memanej dan mengatur jalannya institusi tentunya harus memiliki kualifikasi yang baik. Kualifikasi tersebut sebagai merupakan upaya-upaya menjadikan pemimpin yang bisa mengemban tugasnya dengan baik, sehingga ia kan menjadi pemimpin yang efektif.

Pemimpin yang Efektif

Efektif kepemimpinan banyak bergantung pada beberapa variabel, seperti kultur organisasi, sifat dari tugas dan aktivitas kerja, dan nilai serta pengalaman dalam memimpin. ”Yang mempengaruhi efektifitas kepemimpinan mencakup kepribadian, pengalaman, masa lampau, dan harapan dari manajer yang bersangkutan; harapan dan perilaku bawahan; persyaratan tugas; kultur dan kebijakan organisasi; dan harapan serta perilaku rekan bekerja.”
Kepemimpinan yang sukses ataukah kepemimpinan yang efektif? Ada perbedaan signifikan antara pemimpin yang sukses dengan pemimpin yang efektif. ”kepemimpinan yang sukses berusaha bagaimana menguasai para bawahan secara individu maupun kelompok, sebaliknya kepemimpinan yang efektif melukiskan kondisi internal atau predisposisi bawahan secara individu atau kelompok, dan oleh karena itu sikap dan prilaku tersebut alamiah.
Kepemimpinan yang sukses bisa saja karena menggunakan kinerjanya secara struktural. Sedangkan pemimpin yang efektif ia bekerja secara humanisme walaupun tidak melalikan strukturalnya. Sehingga kepemimpinan yang efektif akan disenangi oleh para anggotanya, sedangkan pemimpin yang sukses belum tentu disenanginya. Dalam sebuah riset dihasilkan bahwa ”pemimpin yang efektif adalah pemimpin yang anggota kelompoknya merasa bahwa kebutuhan mereka terpenuhi dan pemimpin sendiri merasa bahwa kebutuhannya juga telah terpuaskan.
Tentunya tidak serta merta hasil riset di atas dianggap paling benar adanya, namun adanya kombinasi antara hubungan struktural dan humanisme akan menghasilkan kepemimpinan yang lebih efektif.

Penutup

Kepemimpinan dalam sebuah institusi dianggap sukses atau efektif, tergantung dari sisi mana menilainya. Apabila dilihat dari aspek produktifitas, maka kesuksesan bisa dilihat dari apa yang telah dihasilkan. Jika nilai sukses dan efektif dilihat dari sisi kenyamanan dalam institusinya maka aspek humanisme menjadi keniscayaan, dan apabila kesuksesan di ukur dengan berjalannya organisasi sesuai rencana yang telah dibuat , maka kepemimpinan struktural menjadi pilihan yang tepat.
Dengan demikian nampaknya kepemimpinan yang diharapkan efektif ialah apabila dari beberapa aspek di atas menjadi langkah-langkah yang integral baik dari aspek humanisme, aspek struktural, dan produktifitasnya. Namun hal tersebut akan relatif lebih efektif lagi kalau segala tatanan tersebut semua mengarah kepada tatanan relegius, sehingga tujuan akhirnya hanya semata-mata karena Allah SWT. (وما خلقت الجن والإنس إلا ليعبدون). Wallahu A’lam. (sumber : hefniy.wordpress.com)

Manfaat Kita Berorganisasi


PSIKOLOGI MANAJEMEN

Organisasi memiliki definisi koordinasi sejumlah kegiatan manusia yang direncanakan untuk mencapai suatu maksud atau tujuan bersama melalui pembagian kerja atau tugas dan fungsi serta melalui serangkaian wewenang dan tanggung jawab.
Banyak banget manfaat yang diperoleh apabila kita aktif dalam suatu organisasi baik organisasi formal, informal dan sosial. Di bawah ini terdapat beberapa manfaat berorganisasi.

Teamwork

Organisasi adalah kesatuan dari berbagai orang yang bekerja untuk satu tujuan. Dari mulai brainstorming ide, rapat, nyusun anggaran, eksekusi kegiatan, sampai evaluasi, semua dipikirkan dan dikerjakan bersama-sama. Setiap anggota bagai roda mesin yang saling menggerakkan. Kalau salah satu macet, hasil akhirnya bisa tidak sesuai tujuan awal.

Sikap Mental Positif

Berorganisasi bikin kita sadar akan pentingnya sikap-sikap mental yang positif. Dengan segala tanggung jawab di organisasi, kita dilatih disiplin, jujur, berpikir kritis, dan mampu memanage waktu. Kita juga semakin terlatih untuk berani membuat suatu keputusan. Sikap-sikap ini akan terpakai di dunia kerja, sehingga memungkinkan karir kamu naik lebih cepat.

Berdiskusi dan Berbeda Pendapat

Karena di organisasi kita bekerja sama dengan banyak orang yang karakternya beda-beda, kita dituntut untuk mampu menghargai pendapat dan mau mendengar pendapat orang lain. Kita juga ‘dipaksa’ untuk berani mengemukakan pendapat lewat diskusi, baik itu dalam rapat, maupun kepada pihak-pihak yang lebih tua, seperti guru, kepala sekolah, atau rektor yang akan kita ajak kerja sama.

Belajar Manajemen Organisasi

Aktif di organisasi mengajarkan kita untuk bertindak sesuai prosedur dalam manajemen organisasi. Misalnya, tentang tata cara rapat, cara mengajukan proposal yang baik, termasuk step-step dalam mengerjakan sebuah proyek. Misalnya, kamu bergabung dalam OSIS dan akan mengadakan suatu kegiatan, maka kamu akan terlibat dalam acara tersebut dari sejak masih berupa ide mentah sampai saat hari H berlangsung.

Bersosialisasi

Pergaulan akan meluas, kita dapat banyak teman dari adik kelas, senior, pejabat sekolah/kampus, pihak sponsor, dan banyak kontak penting lainnya.
Ada beberapa tips-tips di bawah ini untuk tahu bagaimana caranya menjadi anggota yang baik, pengurus yang berdedikasi, dan pemimpin yang respected.

Jabatan : Anggota

Kalau kamu sudah terdaftar jadi anggota suatu organisasi, jadilah anggota yang aktif.
  • Selalu hadir dalam setiap undangan rapat dan aktif berpendapat dalam rapat tersebut. Siapkan ide banyak-banyak sebelum rapat dimulai.
  • Kerjakan setiap tugas yang diberikan kepadamu dengan maksimal, bahkan melebihi ekspektasi organisasi.
  • Setiap habis rapat atau kumpul, jangan langsung pulang. Sediakan waktu untuk ngobrol-ngobrol dengan sesama anggota atau pengurus.
  • Tunjukkan dedikasi kamu dengan sering memberi usulan (kritik dan saran) yang bisa memajukan organisasi.

WATCH OUT! Tantangan menjadi anggota organisasi :

  • Sebelum mutusin untuk masuk sebuah organisasi, kenali dulu baik-baik organisasi tersebut. Jangan memaksakan diri untuk masuk kalau tidak sesuai dengan kesukaan.
  • Supaya maksimal berorganisasi sekaligus sukses belajar, harus bisa bagi waktu dengan baik.
  • Sebuah kelompok dengan macam-macam karakter dan kepribadian pasti ada saja konfliknya. Jangan sampai terpengaruh kalau ada isu-isu yang memecah organisasi.

Jabatan : Pengurus

Apakah itu sekretaris, bendahara, seksi humas, atau wakil ketua, pengurus organisasi adalah orang-orang yang terpilih.
  • Berusahalah tampil beda dari kepengurusan tahun yang lalu. Jangan cuma copy-paste kalau disuruh untuk membuat proposal kegiatan tahunan. Kalau Himpunan Mahasiswa dari tahun ke tahun bikin acara musik pop, gimana kalau tahun ini kalian bikin malam orchestra. Ide-ide seger yang beda ini bikin kepengurusanmu punya cirri khas sendiri.
  • Jalani peran dan tanggung jawab dengan sungguh-sungguh. Orang udah percaya bahwa kita mampu, kita harus bisa membuktikannya.
  • Adalah tugas pengurus to keep the organization alive. Rajin-rajin bikin kegiatan dan acara yang seru, untuk menambah semangat anggota dan mempersolid organisasi.
  • Jaga sikap karena kamu membawa nama baik organisasi. Kamu juga harus bisa jadi teladan untuk para anggota.

WATCH OUT! Ngga gampang lho menjadi pengurus yang berdedikasi:

  • Betapa pun positifnya berorganisasi, kewajiban utama kita adalah belajar. Watch out, jangan sampai organisasi mengorbankan prestasimu. Kalau kamu merasa kewalahan, sebaiknya delegasikan sebagian tugasmu kepada orang lain atau junior-junior.
  • Sering menghabiskan waktu dengan sesama pengurus bisa menimbulkan kesan kamu tidak mau bergaul dengan orang lain selain pengurus. Hal seperti ini harus dihindari. Kalau gap antara pengurus dan anggota terlalu lebar, kalian akan dicap geng eksklusif yang nggak mau berbaur.

Jabatan : Pemimpin

Jabatan ketua atau pemimpin berhubungan erat sama kepercayaan.
  • Punya visi, misi, dan aksi yang jelas untuk kemajuan organisasi.
  • Sebagai pemimpin kita dituntut bekerja ekstra dan berbuat lebih.
  • A good leader harus bisa mengkoordinir anggotanya untuk mencapai tujuan bersama.
  • Berani membuat keputusan dengan cepat dan semoga tepat.
  • Selalu bersikap netral dalam setiap permasalahan dan mampu jadi pengasuh untuk bawahannya.
  • Kesalahan anak buah merupakan tanggung jawab pemimpin. Pemimpin harus bisa memberikan alasan kuat yang mendasari kesuksesan dan kegagalan anggota-anggotanya.

WATCH OUT! Are you a good leader?

  • Jadilah panutan dan teladan. Kalau kamu selalu tepat waktu , ‘anak buah’ tentu malu kalau sampai terlambat. Be an example by doing it the right now, jangan no action talk only aja!!
  • Seorang pemimpin yang baik harus mau jadi pengikut yang baik. Jangan hanya pintar ngomong, tapi juga peka mendengar. Tidak hanya hobi mengkritik, tapi juga bersedia meminta maaf ika salah.
  • Menjadi pemimpin bukan berarti kamu terbebani dengan semua perkara organisasi. Delegasikan tugas kepada orang yang kamu anggap mampu. Untuk itu kenali baik anggota-anggotamu. Jangan sampai kamu kasih tanggung jawab mendekor sama teman yang tidak mempunyai sense of art.
  • A good leader bukan cuma mencari sukses untuk dirinya, tapi juga membawa seluruh anggota sukses bersama-sama. Siapkan juga calon-calon pengganti kepengurusanmu dengan proses regenerasi.
sumber: wartawarga.gunadarma.ac.id

Pergi camping mampu sembuhkan insomnia?

Apakah Anda kerap sulit tidur di malam hari dan bangun dalam keadaan lemas keesokan paginya? Jika iya, sebaiknya Anda mencoba tidur di dalam tenda.
Menurut sebuah penelitian terbaru, pergi camping membuat tubuh terkena cahaya alami saat senja sehingga hal itu membuat jam biologis tubuh kembali normal. Para penderita insomnia pun mampu beristirahat lebih nyenyak dan bangun dalam keadaan segar.
Pergi camping dan tidur di tenda ini pun sangat dianjurkan bagi orang-orang yang suka begadang selama hampir seminggu penuh, demikian tutur peneliti.
"Tubuh yang terkena cahaya matahari dan tidak terus-terusan mendapat paparan cahaya dari benda-benda eletronik akan mendapatkan manfaat yang luar biasa. Salah satunya adalah menyembuhkan insomnia dan membuat tubuh lebih segar," terang kepala peneliti Kenneth Wright dari University of Colorado.
Cahaya dari benda-benda elektronik contohnya adalah televisi, smartphone, sampai lampu pijar itu sendiri. Selama ini, memang banyak penelitian yang menyebutkan adanya gadget justru membuat seseorang semakin sulit tidur.
Sebagaimana dilansir dari Daily Mail, peneliti pun menyarankan agar tubuh lebih sering mendapat paparan sinar matahari demi menjaga kesehatan secara keseluruhan.
Hasil penelitian kemudian dilaporkan dalam jurnal Current Biology.

Membuat Busur Panah Survival


Membuat busur panah ketika survival haruslah cepat, karena kita terbatas dalam tenaga, waktu dan peralatan. Sumber daya yang terbatas memaksa kita untuk dapat memanfaatkan sebaik mungkin apa yang ada di sekitar. 

Kemampuan membuat sebuah senjata untuk berburu adalah sebuah hal bernilai positif untuk kita miliki sebelum bencana kelaparan melanda anda dan berujung kematian tragis. Dalam berburu, senjata paling efektif  adalah senjata yang mampu mengenai target dengan cepat, sunyi dan mematikan. Dalam hal ini, yang mampu memenuhinya adalah kemampuan anak panah yang mampu melesat dengan cepat ke seekor kelinci bakal makan malam anda.

Lalu apa yang dapat anda lakukan untuk membuat senjata seperti busur panah dan anak panah, sedangkan anda saat ini tidak memiliki pisau ataupun kapak untuk membuatnya...


Sesi ini kita akan membahas mengenai, Bagaimana membuat busur panah survival secara cepat dan efektif.

langkah-langkahnya adalah sebagai berikut:



1. Carilah tiga batang kayu yang memiliki panjang yang sama, anda dapat menyesuaikan jumlah kayu anda sesuai dengan karakteristik kayu yang ada. dalam hal ini carilah kayu dengan pola lusur dan tidak mudah untuk dipatahkan;

2. Rapatkanlah kayu kayu anda tersebut


3. Ikatlah kayu kayu anda pada bagian tengahnya



4. Ikatlah pada bagian kedua ujung dari kayu anda dan lanjutkan mendekati ke tali pertama yang anda pasang.


5. Langkah selanjutnya adalah menempatkan string/ tali busur anda.


Kini busur panah anda telah siap. Untuk langkah selanjutnya anda dapat membuat anak panah sebagai pelengkapnya, untuk jenis busur seperti ini anda tidak memerlukan pisau ataupun kapak, anda dapat melakukannya hanya dengan sebuah batu tajam. 

Batu dengan bagian tajam pada salah satu sisinya dapat anda gunakan untuk memotong batang kayu, karena pilihan terbaiknya adalah memotong kayu yang tidak terlalu besar maka anda dapat memilih tanaman perdu atau semacamnya. Dengan menyatukannya, anda akan memperoleh kekuatan lebih baik dibandingkan sebuah batang kecil.