MAPALA - MIPALA FMIPA UNTAN

SELAMAT DATANG.

Motto Organisasi MIPALA

Alam adalah tempat untuk menguji kepribadian dan keteguhan hati seseorang Alam tidak akan hidup tanpa adanya orang-orang yang berfikir dan menghargainya.

IKRAR MIPALA

Kami menjadi satu dalam nafas Pencinta Alam Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Tanjungpura dan rela berkorban dengan tetap menjunjung tinggi nilai-nilai akademis, baik di dalam maupun di luar kampus.

Organisasi MIPALA

Alam adalah tempat untuk menguji kepribadian dan keteguhan hati seseorang Alam tidak akan hidup tanpa adanya orang-orang yang berfikir dan menghargainya

Underwater

Menikmati keindahan laut siapa yang tidak ingin namun semua tergantung kesiapan kawan-kawan,Dasar Snorkling, yang biasa juga disebut dengan skin diving harus dimiliki.

Mengenal macam dan Jenis Jamur Beracun


Jamur  telah dikenal luas masyarakat sebagai salah satu tanaman yang dapat dikonsumsi maupun dimanfaatkan sebagai obat, tetapi ada beberapa spesies jamur yang  memang tidak layak dikonsumsi karena racun yang dikandungnya. Tempat hidup jamur sering kita jumpai pada tempat-tempat yang lembab dan saat musim penghujan. Jamur biasa tumbuh pada kayu-kayu yang telah lapuk, serasah, jerami, dan bahan organik yang lainnya. Umur hidup jamur tidaklah lama, pada musim kemarau jamur sulit ditemukan kecuali pada lantai-lantai hutan yang iklim mikronya masih sangat bagus. 
Tidak semua orang mengetahui manfaat jamur karena masih terdapat banyak sekali jenis jamur yang belum teridentifikasi hingga saat ini. Jamur dapat dimanfaatkan survivor sebagai bahan makanan guna mengisi kebutuhan tubuhnya, hendaknya jamur yang ditemukan dan akan dikonsumsi oleh survivor tetap dimasak terlebih dahulu. Menggenai jamur pada lembar ini tidak akan dibahas lebih mendalam karena tema kita bukan untuk tujuan konservasi.


Pada umumnya jamur beracun memiliki ciri-ciri sebagai berikut :

  1. Mempunyai tudung dengan warna yang menyolok, seperti : merah darah, hitam legam, biru tua, ataupun warna-warni lainnya;
  2. Menghasilkan bau busuk yang menusuk hidung, seperti telur busuk H2S ataupun bau amoniak;
  3. Mempunyai cincin atau cawan, akan tetapi ada juga jamur yang mempunyai cincin tetapi tidak beracun seperti jamur merang dan jamur kompos;
  4. Umumnya tumbuh pada tempat-tempat yang kotor seperti tempat pembuangan sampah dan kotoran hewan;
  5. Apabila jamur beracun tersebut dikerat dengan pisau yang terbuat dari perak maka pisau tersebut akan berwarna hitam atau biru;
  6. Apabila dimasak cepat sekali berubah warna dari warna putih menjadi gelap.

Bagian-bagian jamur
Tubuh buah jamur pada umumnya tersusun oleh bagian-bagian yang dinamakan  tudung/cap(pileus), bilah (lamellae), kumpulan bilah (gills), cincin(annulus/ring),  batang/tangkai(stipe), cawan(volva) dan  sisik(scale). 



Berikut beberapa contoh  jenis dan ciri jamur yang tidak boleh dikonsumsi:

Amanita
Tempat habitatnya: tumbuh liar di hutan, tegalan dan pekarangan, ditemukan di antara jatuhan daun atau pada tanah humus. Biasanya, racun yang terkandung pada amanita digunakan untuk meracuni ujung tombak atau senjata tajam lainnya
 Amanita Spisa, ciri-ciri: tubuh buah seperti payung, dengan tudung berwarna coklat tua dengan bintik-bintik putih, tidak memiliki cincin, tidak memiliki cawan.








 Amanita muscaria, ciri-ciri: tubuh buah seperti payung, dengan tudung berwarna merah dengan bintik-bintik putih, tak ber cincin, tidak memiliki cawan.










 Amanita Umbrina, ciri-ciri: tubuh buah menggulung, dengan tudung berwarna coklat muda sampai kuning, batang tidak jelas.










Boletus
Tempat habitatnya : tumbuh liar di hutan di antara jatuhan daun atau tanah berhumus, di pinggir kebun dan pekarangan rumah. 
Ciri-ciri : Tubuh buah menyerupai payung, tudung tebal dan bulat, batang berwarna (kecoklat-coklatan, kehitam-hitaman), tudung berwarna (coklat tua, kuning, atau coklat kekuning-kuningan), tidak bersisik, tidak bercincin dan tidak memiliki cawan.



Coprinus
Tempat habitatnya: tumbuh liar di tempat penggilingan padi dan di bawah pohon pisang. 
Ciri-ciri: :Apabila masih muda tudung berwarna putih atau putih kekuning-kuningan, putih kebiru-biruan atau putih gelap, keseluruhan bagian tubuh maupun batang memiliki sisik, tidak bercincin, tidak bercawan,  apabila sudah tua tudungnya cepat hancur dan mengeluarkan cairan yang berwarna biru atau violet.





Cortinarius
Tempat habitatnya: tumbuh liar, banyak ditemukan di tumpukan daun dan tanah yang berhumus.

Ciri-ciri:tubuh buah berbentuk payung dengan batang berwarna (putih kekuning-kuningan, putih kebiru-biruan atau putih gelap),  tudung berwarna (putih kecoklatan, violet, biru atau kuning), tidak memiliki cincin, tidak memiliki bercak.



Lactarius
Tempat habitatnya: tumbuh liar di hutan, kebun dan di pekarangan rumah.
Ciri-ciri : tubuh buah berbentuk payung terbuka ke atas, berbatang tebal, berwarna (coklat muda,kekuning-kuningan, coklat putih serta biru muda dengan bintik hitam atau garis-garis memanjang), tudung berwarna seperti batang, kadang-kadang disertai garis melingkar di atasnya, tidak memiliki cawan, tidak bercincin, tidak berbercak dan tidak bersisik.


Lepiota
Tempat habitatnya: tumbuh liar dimana-mana.
Ciri-Ciri: warna tudung kecoklat-coklatan, memiliki cincin, bersisik dengan warna cokelat tua pada keseluruhan tubuhnya, bentuk seperti Amanita tetapi lepiota mempunyai sifat racun yang sangat tinggi.

   



Morchella
Tempat habitatnya:- tumbuh liar pada timbunan daun atau menempel pada batang yang telah lapuk.
Ciri-ciri : tudung berbentuk payung tertutup, dengan tudung berwarna kuning tua, tidak memiliki cincin,  batang putih kekuning-kuningan tanpa sisik yang jelas dan tidak memiliki cawan.

  

Pholiota
Tempat habitatnya: tumbuh liar diantara timbunan daun yang berjatuhan atau menempel pada kayu yang telah lapuk.
Ciri-ciri: tudung buah mempunyai bentuk seperti payung dengan warna batang putih, kekuning-kuningan atau kuning dan ada kalanya kecoklat-coklatan dengan warna tudung sama seperti warna batang, tidak memiliki cincin, memiliki sisik pasa batangnya dan tidak memiliki cawan, biasanya hidup berkelompok.

PhallusTempat habitatnya:  tumbuh liar pada tanah yang berhumus, lembab atau terlindung dari cahaya matahari.
Ciri-ciri : tudung tertutup dengan warna sisik kuning atau hijau, batang putih kotor dan bersisik, mempunyai cawan, tidak bercincin, serta menyerupai bentuk alat kelamin pria.



Psalliota 
Tempat habitatnya: tumbuh liar ditanah yang banyak mengandung humus
Ciri-ciri: batang panjang berwarna (putih atau coklat muda), batang dan tudung bersisik kasar, tudung berwarna kuning kecoklatan atau kuning kehitaman, tidak memiliki cincin maupun cawan.



RussulaTempat habitatnya : tumbuh liar pada timbunan daun terutama di kawasan hutan.
Ciri-ciri : batang berwarna (putih, kebiru-biruan, hijau, kuning, ungu), tudung berwarna (biasanya tidak berbeda dengan warna batang), tidak memiliki sisik, tidak bercincin dan tidak bercawan.



Polyporus
Tempat habitatnya : tumbuh liar, menempel pada batang kayu yang mati atau lapuk sedikit ditemukan pada permukaan tanah.
 Polyporus Ciri-ciri : tudung melebar berwarna (coklat, kuning, kehijauan ataupun merah), batang tidak jelas, tudung melebar kesamping, tudung tidak bersisisk.

 Polyporus brumalis Ciri-ciri : tudung melebar berwarna (coklat, kuning, kehijauan ataupun merah), batang tidak jelas, tudung melebar kesamping, tudung bersisik lembut.
 Polyporus squamosus Ciri-ciri : tudung melebar berwarna (coklat, kuning, kehijauan ataupun merah), batang tidak jelas, tudung melebar kesamping, tudung bersisik kasar.












Sebenarnya tidak ada resep yang pasti untuk mengenal jamur yang beracun dengan yang dapat dimakan kecuali pengetahuan yang tepat terhadap tanda-tanda pengenal dan yang membedakannya, karena warna suatu jamur tidak menunjukkan sifat dapat dimakan atau tidaknya. 


Ternyata jamur jenis Knollenblaetterpilze dan Amanita phaloides tidak menunjukkan pewarnaan pada perak baik di gosok maupun dimasak bersamaan. Untuk jamur beracun jenis lain masih dapat merubah warna perak menjadi hitam karena sulfida ataupun perak menjadi kebiruan karena sianida yang terkandung pada jamur-jamur beracun lainnya.
Ciri-ciri jamur yang dapat dijadikan sebagai patokan adalah ketika jamur telah berkembang penuh, dan untuk jamur muda sebaiknya kita ekstra hati-hati, karena ciri-ciri sepenuhnya belum dapat dilihat. Setiap jamur yang tumbuh berdekatan belum tentu merupakan jenis yang sama. Jamur yang dimakan ulat/bekicot juga belum tentu merupakan jamur yang tidak mengandung racun. Pada beberapa jamur, aroma jamur merupakan salah satu ciri-ciri yang penting.
Maaf, jika terdapat banyak kekurangan dalam penulisan mengenai jamur kali ini. Tetapi bagaimanapun semoga materi  di atas dapat dijadikan referensi yang membuat anda lebih siap dalam menghadapi Survival yang nyatanya dapat anda hadapi setiap saat.


__________________________________
Daftar Referensi:
Ir. Elis Nina Herliyana, jamur yang dapat dimakan sebagai komponen ekosistem hutan, dan petunjuk memburu jamur untuk pemula.

Penyebab kematian Di Gunung


Mendaki gunung merupakan kegiatan yang cukup banyak peminatnya sekarang. Kegiatan alam bebas ini memang menjanjikan kenikmatan.  Kenikmatan yang bahkan sampai sekarang hanya mereka yang berhasil mendaki sampai ke puncak yang tahu.
“Because it is up there..” ujar salah seorang pendaki terkenal Inggris untuk menggambarkan kenikmatan itu.
Bagi pendaki gunung sejati, kenikmatan mencapai puncak gunung sangat sulit digambarkan dengan kata-kata. Yang jelas mendaki gunung adalah kegiatan yang menyenangkan dan relatif mudah dilakukan.  Tidak seperti arung jeram, panjat tebing atau menyelam, dimana diperlukan keahlian khusus.
Kegatan ini juga menjanjikan kesenanganan karena dapat meyaksikan keindahan dan keagungan alam pegunungan. Namun hati-hati, dibalik keindahannya, gunung juga menyimpan bahaya bagi para pendaki. Sejak 1492 saat pendakian gunung pertama kali dilakukan manusia hingga sekarang, sudah ratusan bahkan mungkin ribuan orang tewas di atas gunung.
Banyak faktor yang membuat mereka gagal lalu tewas baik ketika sedang mendaki atau menuruni gunung. Faktor-faktor apa saja yang biasanya menjadi penyebab?
1. Fisik Dan Mental
Ketidaksiapan fisik dan mental menjadi faktor yang cukup tinggi sebagai penyebab kematian para pendaki gunung. Fisik dan mental yang lemah jelas-jelas menjadi mangsa empuk alam gunung yang liar. Apalagi jika mendaki gunung yang ketinggiannya lebih dari 4000 meter dimana oksigen begitu tipisnya. Meski sekarang ada alat bantu oksigen tetapi jika fisik lemah, alat bantu itu hampir seperti tak ada artinya. Mental pun demikian. Orang-orang yang mendaki gunung diharuskan memiliki mental pantang menyerah, bersikap tenang dan tidak mudah panik. Ingat, alam liar pegunungan tidak pernah menoleransi kekurangan-kekurangan itu. Maka persiapkan fisik dan mental Anda sebaik mungkin.
2. Kurang Pengetahuan
Pengetahuan tentang gunung yang akan didaki adalah mutlak. Banyak pendaki remaja atau pemula yang tewas di gunung karena minimnya pengetahuan. Pengetahuan ini meliputi banyak hal, seperti pengetahun tentang tinggi gunung, karakteristik cuaca, pengetahuan tentang flora dan fauna yang biasa hidup di pegunungan, pengetahuan tentang tempat-tempat berbahaya di atas gunung hingga pengetahuan tentang tindak penyelamatan
3. Cuaca Buruk
Cuaca diatas pegunungan sangat sulit ditebak, bahkan terkadang meski saat itu musim kemarau bisa saja di atas gunung turun hujan lebat. Cuaca buruk memang tidak menjadi penyebab langsung kematian, tetapi efek yang ditimbulkannya kerap menjadi penghalang pendakian. Seperti jalan menjadi becek dan licin atau udara begitu menjadi begitu dingin.
4. Tersesat
Banyak juga pendaki gunung yang mengalami tersesat. Ini bisa saja terjadi karena mungkin mereka terpisah dari rombongan, mencoba jalur baru atau bahkan disebabkan oleh kesalahan sepele, tidak membawa kompas. Saat orang mengalami tersesat dimana biasanya mereka selalu berputar-putar ke tempat yang sama, mereka akan mengalami disorientasi, bingung, kalut tanpa persediaan makanan yang cukup. Saat itulah maut mengintip.
sumber www.kabarinews.com

Extreme Tips Rock Climbing: Traverse to get a point


Panjat tebing adalah hal yang menyenangkan. Membuat ketagihan bagi yang mampu menyukainya. Tetapi beda cerita jika pemanjatan yang di lakukan menemui jalan buntu. Point yang ada terlalu jauh, permukaan tebing yang tidak layak untuk dipanjat karena terlalu rapuh, kemampuan yang terbatas karena terdapatoverhang yang terlalu lebar atau bahkan karena bagian dari jalur yang direncanakan merupakan istana lebah liar.


Mendapatkan point ketika kehilangan jalur lanjutan. 

Contoh kasus.
Masalah: pemanjatan vertikal tidak dapat dilakukan karena suatu hal. Untuk pemanjatan horisontal tidak terdapat point maupu n celah yang dapat dimanfaatkan untuk melakukannya. Points ada sekitar lima meter di sebelah kanan/kiri lokasi pemanjat saat ini. Anggota badan tidak mungkin dapat menjangkaunya, jika dilakukan spekulasi lompatan resiko terlalu besar, jika  canceling pemanjatan alias turun, kekecawaan sponsor  akan menderu beberapa minggu ke depan bahkan ancaman fatal yaitu kehilangan exsistensi. Berikut gambaran situasinya...





Pemecahan:

kalau kamu??...


Pemecahanku adalah dengan melakukan  traverse. Karena tidak adanya point maupun crack yang dapat digunakan untuk melakukan tehnik hand traverse maka dalam kasus di atas pemanfaatan yang paling utama adalah peralatan descender yang wajib dibawa untuk setiap pemanjatan. Caranya, pertama adalah posisikan belayer pada posisi terakhir leadersaat ini. Kedua adalah memasang beberapa pengaman. Gunakan minimal tiga pengaman untuk penempatan descender. Amankan belayer dengan beberapa pengaman dan pastikan semua pengaman terpasang dengan baik. Untuk pengaman sisip gunakan minimal empat buah, usahakan menggunakan piton sebagai pengaman untuk situasi seperti ini.   

Langkah selanjutnya adalah  leader mulai melakukan traverse menuju lokasi yang di rencanakan. Ketika melakukan traverse seperti ini, leader menggunakan tehnikfriction/slab, ber-focus pada pijakan kaki untuk memperoleh daya dorong dengan tubuh condong meninggalkan belayer, beban badan leader akan dibebankan 100% pada anchordescander, untuk itu anchor descender harus benar-benar terpasang dengan baik. belayertetap konsentrasi pada tali, tali tetap pada posisi bertahan dan belayer mengendurkannya sedikit demi sedikit bersamaan dengan pergerakan/aba-aba  leader.  




Pada traverse dalam situasi seperti ini point yang dapat dicapai oleh leader akan berada beberapa meter di bawah garis horisontal lokasi belayer saat ini. Setalah sampai pada titik tertentu pada jalur lanjutan, langkah selanjutnya adalah leader melakukan pemanjatan hingga beberapa meter di atas belayer saat ini.




pada pemanjatan ini, leader harus extra hati-hati karena tidak diwajibkan memasang pengaman satupun hingga posisi leader lokasi yang ditentukan, yaitu beberapa meter dari garis horisontal  lokasi belayer saat ini. Setelah lokasi yang direncanakan di raih olehleaderleader memasang pengaman untuk pemindahan belayer pada jalur terbaru. Pemasangan anchor ascender dibuat untuk pemindahan belayer. Anchor harus terpasang sebaik mungkin, begitupun tali pada seat harness belayer

Langkah selanjutnya adalah belayer berayun menuju jalur baru, 100% berat badan belayerakan bertopang tali,



Selanjutnya pemanjatan dilakukan oleh belayer menuju lokasi leader memasang anchor.leader melakukan belaying dari pemasangan anchor terakhir untuk mengamankan belayerselama melakukan pemanjatan, hingga belayer mencapai lokasi yang ditentukan sebelumnya. 





NB:______________________________________

_Leader diperkenankan untuk langsung memasang anchors setelah mencapai points pada jalur baru/lanjutan. Tetapi untuk pemindahan belayer, untuk mengurangi resiko yang fatal dengan terpaksa belayer harus turun beberapa meter dari pitch sebelum melakukan pindah jalur.

_Pemasangan runner sepanjang jalur di bawah anchor terakhir oleh leader akan menggangu pemindahan belayer, dengan berayun, resiko yang diterima belayer sangat kecil.

_Jika leader tidak dapat melakukan traverse slab maka leader diperkenankan untuk berayun. 

_Strategi yang jitu diperlukan untuk setiap pemanjatan, tehnik pemanjatan harus selalu disesuaikan dengan medan tebing dan manfaatkanlah peralatan secara maksimal untuk menunjang keberhasilan menuju puncak.

_Sebuah keputusan "bodoh" dapat saja membunuhmu!